Date Sabtu, 26 July 2014 | 18:09 WIB
member of Jawa Pos National Network (JPNN)

Home » Berita » Kaba Kampuang

Senangkan Petani, Gairahkan Sektor Pariwisata

Berburu Babi Hutan di Lintaubuo

Selasa, 06-09-2011 | 14:15 WIB | 988 klik
Berburu Babi Hutan di Lintaubuo

Berburu Babi: Pecinta buru babi datang dari luar daerah. Mereka akan melepas anj


Tradisi berburu babi hutan (kandiak), telah ada sejak ratusan tahun lalu di bumi Minangkabau. Untuk menjunjung tinggi tradisi ini, buru babi pun dijadikan sebagai hobi sekaligus agenda wisata di Lintaubuo. Bagaimana serunya berburu babi di Lintaubuo?


Di Lintau Buo, tradisi berburu babi ini dilakukan secara turun-temurun. Biasanya, saat memasuki musim panen, sawah petani kerap diganggu babi-babi hutan. Ini jelas menjengkelkan petani. Dengan menangkap babi-babi hutan ini, jelas petani akan meraup untung besar dari panen sawah mereka yang berlimpah.


Kendati awalnya untuk menjaga hasil panen, belakangan acara berburu babi justru dijadikan sebagai hobi oleh masyarakat sekitar. Kini, acara berburu babi ini dilaksanakan setiap pekan.


Sesuai tradisi, warga terlebih dahulu menggelar musyawarah. Layaknya pertemuan agung, seorang pemuka adat menghormati pemburu dengan simbol adat sirih pinang. Pertemuan ini lebih menyerupai ajang untuk bertukar pikiran.


Tak hanya petani yang hadir. Beberapa pemimpin nagari juga menyempatkan hadir. Dalam musyawarah inilah, para pemilik anjing biasanya secara sukarela mengumpulkan uang. Dana yang terkumpul diberikan kepada anak tapak (yang menyisir hutan dan sarang babi yang akan diburu).


Biasanya, uang itu digunakan untuk mengobati anjing yang terluka saat berburu dan ganti rugi untuk lahan yang rusak. Dalam satu kali perburuan, anjing-anjing ini biasanya mampu menangkap lima sampai 10 ekor babi.


Namun mengingat mayoritas masyarakat Lintaubuo beragama Islam, maka babi yang mati diserang anjing tidak pernah dibawa pulang oleh pemburu. Babi-babi itu biasanya dibiarkan untuk makanan anjing-anjing mereka.


Luar biasanya, pemburu babi hutan ini rela merogoh kocek besar untuk membeli anjing hingga ratusan juta. Seperti Ajo Yasir, 35, ia memiliki anjing peliharaan yang digunakan untuk berburu, seharga puluhan juta.


Ajo Yasir mengaku buru babi ini untuk mencari kesenangan. “Tidak belinya saja yang mahal. Perawatan anjing ini juga mahal, karena kita juga harus memperhatikan asupan gizi dan nutrisi anjing tersebut,” ujarnya.


Jika anjing tidak memiliki asupan gizi yang baik maka anjing tidak dapat bekerja dalam sempurna dalam perburuan. “Hobi buru babi ini diminati semua kalangan, dari masyarakat biasa hingga pejabat,” kata Ajo Yasir yang juga pengusaha pedagang grosir di Lintaubuo.


Terpisah, Pembina Persatuan Olah Raga Buru-babi (Porbi) Lintaubuo, Khaidir Malingkar mengatakan, kegiatan buru babi tidak hanya untuk meningkatkan hasil panen petani, namun juga untuk menggeliatkan sektor pariwisata.


“Gelanggang buru babi cukup terkenal di Sumbar, Caduak. Di sana, punya arena pacuan anjing yang luas dan pemandangan yang indah. Yang datang melihat, tak hanya warga sekitar. Tapi juga dari perantau dan warga luar daerah seperti dari Riau, Jambi dan Bengkulu,” tutur Khaidir Malingkar. (*)

BERITA TERKAIT

KOMENTAR BERITA